Memprediksi Bentuk Tubuh


Menurut hasil analisa dan pengalaman saya, memilih seorang wanita sebagai pasangan hidup memang bisa dilihat dari beberapa sisi. Ada yang melihat dari karakternya, ada yang melihat dari keluarganya, ada yang melihat dari kecerdasannya, dan banyak pula yang melihat dari penampilannya.

Sudah fitrahnya laki-laki kalau mereka selalu punya keinginan untuk mendapatkan wanita cantik. Masalah dapat atau dikejarnya wanita tersebut itu lain perkara. Yang jelas, sangat sulit bagi laki-laki untuk tidak mengaitkan wanita dengan kecantikan.

Kriteria kecantikan pun bermacam-macam, dan tiap laki-laki punya parameternya sendiri-sendiri.

Dari berbagai parameter tersebut, saya yakin bentuk tubuh menjadi salah satu pertimbangan bagi kaum laki-laki dalam memilih wanita. Tidaklah berlebihan bila kecantikan seorang wanita juga dilihat dari bentuk tubuhnya.

Soal bentuk tubuh memang soal selera. Saya tidak akan bilang bentuk tubuh yang satu lebih baik dari yang lainnya, karena tiap laki-laki mempunyai pandangannya sendiri-sendiri.

Namun ada saja kasus-kasus yang sepertinya “kaget” dengan bentuk tubuh isterinya. Ketika masih pacaran bentuk tubuh sang isteri begitu aduhai, namun ketika sudah menikah malah bikin lunglai.

Andaikata laki-laki bisa memprediksi bentuk tubuh calon isterinya, mungkin rasa kaget ini bisa diantisipasi dan sang laki-laki pun bisa lebih mempersiapkan diri menghadapi bentuk tubuh isterinya.

Menurut saya, cara termudah untuk memprediksi bentuk tubuh calon pasangan adalah dengan melihat bentuk tubuh sang Ibu (calon mertua). Ini bukan menghinakan atau bertindak tidak sopan, namun dengan melihat bentuk tubuh sang Ibu, kita bisa mengira-ngira seperti apa bentuk calon pasangan kita nanti.

Memang teknik ini belum tentu efektif, tapi paling tidak bisa dijadikan referensi. Karena faktor genetik adalah sesuatu yang tidak bisa dipungkiri, dan dalam hal ini bentuk tubuh pun akan diwariskan kepada keturunan.

Kalau camer terlihat “ekstra”, janganlah kaget bila nanti calon isteri kita ada bakat untuk jadi “ekstra” pula. Begitu pula sebaliknya.

Nah, kalau setidaknya kita sudah punya referensi seperti ini, kita dan calon pasangan kita bisa mendiskusikan langkah-langkah yang bisa diambil untuk tetap tampil menarik.

Misalnya, apabila ada bakat “ekstra” mungkin kita dan pasangan kita bisa menyisihkan tabungan untuk program diet. Sedangkan bila calon isteri lebih cenderung kurus, mungkin kita bisa menaruh proporsi yang lebih besar dari pendapatan kita nanti untuk membeli makanan bergizi.

Kalau kita sudah bisa menerima kemungkinan bentuk tubuh pasangan kita di hari-hari depan, rasanya laki-laki bisa lebih realistis dan menerima kenyataan, dan wanitanya pun bisa lebih tegar untuk tidak mudah tergoda dengan iklan-iklan yang sering kali menyesatkan.

Tidak ada komentar:

Sumber: http://mahameruparabola.blogspot.com