Mengapa semua laki-laki harus
maskulin dan perempuan harus feminin? Mengapa laki-laki harus tampak jantan dan
perempuan harus tampil lembut? Mengapa semua laki-laki cenderung mempunyai
posisi lebih tinggi dari perempuan? Apakah hanya karena persoalan dia
“laki-laki” dan dia “perempuan? Ataukah karena “dikonstruksikan secara sosial”?
Pertanyaan-pertanyaan diatas,
seperti juga pertanyaan-pertanyaan tentang kematian, tuhan, dan kehidupan,
mungkin adalah pertanyaan-pertanyaan abadi. Persoalan-persoalan seputar jagad
perempuan dan jagad laki-laki seperti ketegangan abadi yang tidak pernah
mereda.
Laki-laki, beruntung atau tidak,
selalu menempati posisi lebih tinggi dari perempuan. Konsep budaya yang
menempatkan posisi laki-laki lebih sempurna dari perempuan, dan yang
mengharuskan laki-laki dan perempuan bertindak sehari-hari menurut garis
tradisi sedemikian rupa sehingga perempuan berada dalam posisi “pelengkap”
laki-laki, semuanya berakar pada budaya patriarki.
Juliet Mitchell (1994)
mendeskripsikan patriarki dalam suatu term psikoanalisis yaitu “the law of the father” yang masuk dalam
kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya. Menurut Heidi Hartmann
(1992), salah seorang feminis sosialis, patriarki adalah relasi hirarkis antara
laki-laki dan perempuan dimana laki-laki lebih dominan dan perempuan menempati
posisi subordinat. Menurutnya, patriarki adalah suatu relasi hirarkis dan semacam
forum solidaritas antar laki-laki yang mempunyai landasan material serta
memungkinkan mereka untuk mengontrol perempuan. Sedangkan menurut Nancy
Chodorow (1992), perbedaan fisik secara sistematis antara laki-laki dan
perempuan mendukung laki-laki untuk menolak feminitas dan untuk secara
emosional berjarak dari perempuan dan memisahkan laki-laki dan perempuan.
Konsekuensi sosialnya adalah laki-laki mendominasi perempuan.
Superioritas laki-laki atas
perempuan bisa dirunut mulai dari jaman penciptaan Adam dan Hawa, jaman
filosofi Yunani Kuno sampai jaman modern. Laki-laki dan perempuan tidak hanya
dianggap sebagai makhluk yang berbeda, tapi juga sebagai seks yang berlawanan.
Sebuah pertemuan antara dunia laki-laki dan perempuan adalah “pertempuran seks”
(the battle of the sexes). Laki-laki
dan perempuan dipolarisasikan dalam kebudayaan sebagai “berlawanan” dan “tidak
sama”.
Kisah superioritas laki-laki atas
perempuan bisa dimulai dari cerita penciptaan manusia dalam kitab suci Bibel,
sebuah cerita yang sangat umum dikenal seperti ini: Adam diciptakan terlebih
dulu dan Hawa diciptakan darinya. Jadi Adam adalah kreator dari Hawa, dan Hawa
diciptakan untuk membantu Adam. Secara sosial dan secara moral, Adam lebih
superior karena Hawa adalah penyebab kenapa mereka berdua dikeluarkan dari
surga.
Phytagoras(1993), seperti dikisahkan
oleh Aristoteles, membuat tabel pengklasifikasian hal-hal atau elemen-elemen
yang berlawanan (oposisi biner). Dari tabel yang dibuat oleh Phytagoras ini
terlihat bahwa laki-laki dan perempuan tidak hanya ditempatkan sebagai
“berbeda” tapi juga “berlawanan”.
Dari tabel yang dibuat oleh
Phytagoras tersebut menjadi jelas terlihat bahwa perbedaan antara laki-laki dan
perempuan tidak hanya diasosiasikan dari perbedaan-perbedaan fisik saja tapi
juga bisa dihubungkan dari persoalan-persoalan lainnya. Misalnya, laki-laki
diasosiasikan dengan segala sesuatu yang bermakna light, good, right, dan one. Semua metafora yang dikenakan pada laki-laki adalah yang
berkenaan dengan makna Tuhan. Sementara perempuan misalnya, diidentifikasikan
dengan sesuatu yang bad, left, oblong, dan darkness.
Seperti halnya Phytagoras,
Aristoteles juga beranggapan bahwa laki-laki lebih tinggi kedudukannya dari
perempuan. Aristoteles mengatakan bahwa: secara natural, laki-laki itu
superior, dan perempuan itu inferior. Yang superior mengatur yang inferior, dan
yang inferior harus rela untuk diatur. Tabel yang berisi elemen-elemen yang
saling berlawanan juga secara gamblang menjelaskan hal ini. Secara natural
laki-laki dan perempuan adalah bermakna: superior dan inferior, pengatur dan
yang diatur, jiwa dan tubuh, akal dan nafsu, manusia dan binatang, atau makhluk
bebas dan budak. Perempuan adalah laki-laki yang impoten. Perempuan adalah
makhluk yang terdingin dan terlemah di alam. Bahkan ia mengatakan bahwa contoh
yang paling baik untuk melihat segala defisiensi (kekurangan) alam adalah
dengan mengamati karakter perempuan.
Alam pemikiran modern tampaknya
terus berpijak pada pemikiran-pemikiran sebelumnya sehingga gagasan-gagasan
tentang laki-laki dan perempuan tidak jauh mengalami perubahan atau perbedaan.
Bahkan JJ. Rousseau (1993), salah seorang pemikir revolusi Prancis memulai
karyanya The Social Contract dengan
kalimatnya yang terkenal seperti ini: “man
is born free and everywhere he is in chains”. Argumennya adalah seperti
ini, “A woman’s education must therefore
be planned in relation to man. To be pleasing in his sight, to win his respect
and love, to train him in childhood, to tend him in manhood, to counsel and
console, to make his life pleasant and happy, these are the duties of woman for
all time, and this is what she should be taught while she is young”.
Dalam bahasa Kate Millet (1993)
telah terjadi “politik seks” (sexual
politics) pada hubungan laki-laki dan perempuan. Ini adalah efek dari
konsep awal Freud tentang perempuan yang menyatakan bahwa perempuan sebenarnya
adalah laki-laki yang tidak punya penis (penis
envy). Menurut Millet, Freud dengan teorinya itu telah meratifikasi
anjuran-anjuran tradisional dan memvalidasi perbedaan temperamental antara
laki-laki dan perempuan.
Simone de Beauvoir (1981) dalam The Second Sex banyak mencontohkan wujud
patriarki ini dalam bermacam-macam kebudayaan di dunia. De Beauvoir menyatakan
dalam budaya Arab misalnya, seorang anak perempuan yang baru lahir sebisa
mungkin akan disingkirkan karena semua bayi perempuan dianggap tidak
menguntungkan dibandingkan jika mempunyai anak laki-laki. Masih menurut De
Beauvoir, di negara-negara Asia dan di banyak kultur lain, ketika seorang anak
perempuan masih berusia remaja, seorang ayah memegang kendali penuh atas
hidupnya sampai ketika ia menikah dan kontrol itu akan beralih ke tangan
suaminya. Di Tunisia, masih jadi pemandangan sehari-hari disana dimana para
istri bekerja keras menyiapkan makanan di dapur atau sibuk mengurus
anak-anaknya sementara para suami, si laki-laki asyik bergerombol dengan
teman-temannya, sesama laki-laki di warung-warung di pasar, membicarakan dan
mendiskusikan persoalan dunia.
Masyarakat India, seperti yang diceritakan
oleh Kamla Bhasin (1996), mengenal konsep Pativrata (kesetiaan ibu). Konsep itu
menanamkan dalam setiap kepribadian perempuan suatu pemahaman sebagai berikut: “dengan apa perempuan menerima dan bahkan
menginginkan kesucian dan kesetiaan ibu sebagai ekspresi tertinggi dari
kepribadian mereka”. Dengan konsep itu, para perempuan di India mau
menerima apapun perlakuan suami terhadap mereka karena yang penting bagi mereka
adalah menjunjung tinggi pativrata. Dan karena konsep itu disosialisasikan
sendiri oleh kaum perempuan maka status rendah perempuan dengan demikian dibuat
tidak terlihat dan patriarki pun dengan kuat ditegakkan sebagai ideologi yang
kelihatannya alamiah.
Patriarki dikonstruksikan,
dilembagakan dan disosialisasikan lewat institusi-institusi yang terlibat
sehari-hari dalam kehidupan seperti keluarga, sekolah, masyarakat, agama,
tempat kerja sampai kebijakan negara. Sylvia Walby (1993) membuat sebuah teori
yang menarik tentang patriarki. Menurutnya, patriarki itu bisa dibedakan
menjadi dua: patriarki privat dan patriarki publik. Inti dari teorinya itu
adalah telah terjadi ekspansi wujud patriarki, dari ruang-ruang pribadi dan
privat seperti keluarga dan agama ke wilayah yang lebih luas yaitu negara.
Ekspansi ini menyebabkan patriarki terus menerus berhasil mencengkeram dan
mendominasi kehidupan laki-laki dan perempuan.
Dari teori yang dikembangkan Walby,
kita bisa mengetahui bahwa patriarki privat bermuara pada wilayah rumah tangga.
Wilayah rumah tangga ini dikatakan Walby sebagai daerah awal utama kekuasaan
laki-laki atas perempuan. Sedangkan patriarki publik menempati wilayah-wilayah
publik seperti lapangan pekerjaan dan negara. Ekspansi wujud patriarki ini
merubah baik pemegang “struktur kekuasaan” dan kondisi di masing-masing wilayah
(baik publik atau privat). Dalam wilayah privat misalnya, dalam rumah tangga,
yang memegang kekuasaan berada di tangan individu (laki-laki), tapi di wilayah
publik, yang memegang kunci kekuasaan berada di tangan kolektif (manajemen
negara dan pabrik tentunya berada di tangan banyak orang).
Rumah adalah tempat dimana
sosialisasi awal konstruksi patriarki itu terjadi. Para orang tua melakukan
“gender” pertama-tama pada saat memberi nama kepada anak-anaknya. Anak
laki-laki lazimnya diberi nama: Joko, Andi, Iwan, Budi, dan seterusnya.
Sedangkan anak perempuan diberi nama: Sita, Wati, Ani, Yuli, Rina, dan lain
sebagainya. Anak laki-laki belajar untuk menjadi “maskulin”, dan anak perempuan
belajar untuk menjadi “feminin” dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh ayah-ibu
dan teman-teman dekat pada saat ulang tahun. Mobil-mobilan dan robot untuk
anak-anak laki-laki, dan boneka serta bunga untuk anak perempuan. Hal ini
berlanjut juga untuk persoalan perlakuan ayah-ibu terhadap anak-anaknya. Anak
laki-laki diajari untuk bisa membetulkan genteng yang bocor atau perangkat
listrik yang rusak, sementara anak perempuan belajar memasak dan menyulam. Para
orang tua cemas dan gelisah jika anak-anak mereka tidak bertingkah laku sesuai
dengan garis konstruksi sosial yang telah menetapkan bagaimana seharusnya anak
laki-laki dan anak perempuan itu bertingkah laku.
Hal serupa juga terjadi di institusi
sekolah. Buku-buku pelajaran SD, tanpa disadari bersifat patriarkis. Buku
pelajaran bahasa Indonesia misalnya, sering mengambil contoh-contoh kalimat
seperti: Wati Memasak di Dapur, Budi Bermain Layang-layang, dsb.
Kalimat-kalimat kategoris bernada manipulatif, yang mengkotak-kotakkan fungsi
laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai kepantasan tertentu yang berlaku di
masyarakat: pekerjaan apa yang lazim dikerjakan anak laki-laki, dan apa yang
lazim dikerjakan oleh anak perempuan.
Kamla Bhasin kemudian menceritakan
dalam budaya India, seorang kenalan laki-laki yang selalu menjadi sasaran
ledekan karena ia mendapat latihan sebagai penari Kathak, suka menjahit dan merajut, yang semuanya adalah aktivitas
feminin, tidak cocok untuk untuk laki-laki sejati.
Dalam
beberapa hal sebetulnya laki-laki juga dirugikan oleh patriarki. Dalam berbagai
sistem kebudayaan, seperti juga yang dialami perempuan, mereka didesak ke
berbagai macam stereotipe, dipaksa menjalankan peranan tertentu, diharuskan
bersikap menurut suatu cara tertentu, terlepas mereka suka atau tidak. Mereka
juga diwajibkan untuk menjalankan tugas-tugas sosial dan lainnya yang
mengharuskan mereka berfungsi dalam cara tertentu. Laki-laki yang sopan dan
tidak agresif dilecehkan dan diledek sebagai banci; laki-laki yang
memperlakukan istrinya secara sederajat dicap “takut istri”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar