“Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra. katanya: Rasulullah Saw. bersabda: Tidak ada fitnah yang paling membahayakan kaum lelaki setelah zaman aku kecuali fitnah dari kaum wanita.” (HR. Bukhari-Muslim).
Wanita binal yang dalam dunia modern sering disebut "loosed women", menitikberatkan pada kepuasan dan kebebasan hidup dengan tidak lagi mengindahkan norma Agama maupun masyarakat. Dalam pandangan mereka keindahan tubuhnya adalah anugrah yang tidak harus disembunyikan. Lekuk-lekuk tubuh yang di dunia modern disebut "artistik" sengaja ditonjolkan lewat baju ketat atau sama sekali tidak dibungkus pakaian. Wittels dalam bukunya "Structure des Criminellen Psychophaten" menyebut wanita tersebut sebagai wanita imoral atau yang tidak tahu malu. Itulah dunia artis. Setuju atau tidak, artis memang umumnya layak mendapat sebutan "loosed women", mereka binal dan cenderung imoral.
“Diriwayatkan dari Imran bin Husain ra. katanya: Rasulullah Saw. bersabda: Golongan yang paling sedikit menghuni surga ialah kaum wanita.” (HR. Bukhari-Muslim).
Wanita binal yang dalam dunia modern sering disebut "loosed women", menitikberatkan pada kepuasan dan kebebasan hidup dengan tidak lagi mengindahkan norma Agama maupun masyarakat. Dalam pandangan mereka keindahan tubuhnya adalah anugrah yang tidak harus disembunyikan. Lekuk-lekuk tubuh yang di dunia modern disebut "artistik" sengaja ditonjolkan lewat baju ketat atau sama sekali tidak dibungkus pakaian. Wittels dalam bukunya "Structure des Criminellen Psychophaten" menyebut wanita tersebut sebagai wanita imoral atau yang tidak tahu malu. Itulah dunia artis. Setuju atau tidak, artis memang umumnya layak mendapat sebutan "loosed women", mereka binal dan cenderung imoral.
“Diriwayatkan dari Imran bin Husain ra. katanya: Rasulullah Saw. bersabda: Golongan yang paling sedikit menghuni surga ialah kaum wanita.” (HR. Bukhari-Muslim).
Fenomena "loosed women" itu sendiri adalah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dari dunia modern. Ketika manusia dihadapkan pada kebutuhan hidup sementara lahan usaha semakin sulit, maka orang akan cenderung berpikir praktis untuk mendapatkan uang. Jalan termudah adalah bagaimana menjual harga diri untuk disuguhkan pada khalayak dengan tidak lagi mengindahkan norma-norma agama. Untuk legalisasi perilakunya, mereka berlindung di balik "hak asasi, kemerdekaan bertindak, reformasi, privacy" dan sebutan lain yang hakekatnya hanya kedok dari kebobrokan perilakunya.
Tak heran jika remaja putri antri ingin difoto telanjang di tabloid-tabliod bahkan menurut sebagian mereka, tidak dibayar pun tidak jadi masalah karena itulah jalan paling mudah untuk terkenal atau diperhatikan oleh sutradara, produser, atau pengorbit artis. Maka menjamurlah tabloid-tabloid dan klip-klip lagu dengan latar sosok gadis telanjang (atau setengah telanjang) menjajakan tubuhnya di tengah-tengah generasinya yang lagi kebingungan menentukan identitas diri. Ketika ditanya atau aktivitas mereka diusik, alasannya sangat klasik "ini hak asasi saya, ini seni, ini suka-suka gue, dll." Akhirnya saban hari masyarakat kita kebanjiran tontonan super erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show, dan klip lagu sarat dengan muatan pornografi. Aurat sudah sangat murah. Harga diri kehilangan mahkota. Badan Sensor Film (BSF) hanya tinggal nama. Para aktivis moral sudah kehilangan tenaga untuk demo. Sebaliknya, ketabuan menjadi barang yang mahal. Rasa malu sudah sangat langka. Celakanya, bagi artis (wanita binal), buka-bukaan adalah seni bukan porno. Maka demi seni, atas nama reformasi dan HAM "izinkan aku telanjang".
Sementara itu di tengah derasnya arus tayangan porno, pendidikan agama justru makin tersisihkan. Para remaja kita tidak lagi mengenal tokoh-tokoh Islam yang dulu begitu gigih memperjuangkan kebenaran. Sebut saja misalnya Bilqis, Ratu Saba, wanita mulia yang rela bertobat dan taat pada suaminya. Khulah binti Tsa'labah, istri yang taat beribadah dan taat pada suaminya. Siti Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad Saw. yang rela berkorban dengan jiwa dan seluruh hartanya demi Islam. Aisyah, istri Rasul tercinta yang taat, cerdas, teguh memelihara kehormatan, dan gigih membela kebenaran. Asiyah istri Fir'aun, wanita yang berjuang menegakkan kebenaran di tengah-tengah lautan
Tak heran jika remaja putri antri ingin difoto telanjang di tabloid-tabliod bahkan menurut sebagian mereka, tidak dibayar pun tidak jadi masalah karena itulah jalan paling mudah untuk terkenal atau diperhatikan oleh sutradara, produser, atau pengorbit artis. Maka menjamurlah tabloid-tabloid dan klip-klip lagu dengan latar sosok gadis telanjang (atau setengah telanjang) menjajakan tubuhnya di tengah-tengah generasinya yang lagi kebingungan menentukan identitas diri. Ketika ditanya atau aktivitas mereka diusik, alasannya sangat klasik "ini hak asasi saya, ini seni, ini suka-suka gue, dll." Akhirnya saban hari masyarakat kita kebanjiran tontonan super erotis. Berbagai tayangan film, sinetron, telenovela, iklan, talk show, dan klip lagu sarat dengan muatan pornografi. Aurat sudah sangat murah. Harga diri kehilangan mahkota. Badan Sensor Film (BSF) hanya tinggal nama. Para aktivis moral sudah kehilangan tenaga untuk demo. Sebaliknya, ketabuan menjadi barang yang mahal. Rasa malu sudah sangat langka. Celakanya, bagi artis (wanita binal), buka-bukaan adalah seni bukan porno. Maka demi seni, atas nama reformasi dan HAM "izinkan aku telanjang".
Sementara itu di tengah derasnya arus tayangan porno, pendidikan agama justru makin tersisihkan. Para remaja kita tidak lagi mengenal tokoh-tokoh Islam yang dulu begitu gigih memperjuangkan kebenaran. Sebut saja misalnya Bilqis, Ratu Saba, wanita mulia yang rela bertobat dan taat pada suaminya. Khulah binti Tsa'labah, istri yang taat beribadah dan taat pada suaminya. Siti Khadijah, istri pertama Nabi Muhammad Saw. yang rela berkorban dengan jiwa dan seluruh hartanya demi Islam. Aisyah, istri Rasul tercinta yang taat, cerdas, teguh memelihara kehormatan, dan gigih membela kebenaran. Asiyah istri Fir'aun, wanita yang berjuang menegakkan kebenaran di tengah-tengah lautan
kemunkaran. Dan pahlawan-pahlawan wanita lainnya yang dengan gigih membela kebenaran. Pahlawan lainnya seperti Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin Al-Ayyubi dan lain-lain.
Sayangnya, yang ada di benak remaja kini adalah Madonna (bom seks Holywood), Brytney Spears, Sophia Latcuba, Jihan Fahira, Meriam Belina, Paramitha Rusady, dan sederet wanita binal lainnya yang sering mengumbar aurat. Atau tokoh-tokoh fiktif seperti Rambo, Superman, Batman, dll. menjadi idola yang tanpa batas. Tak heran jika perilaku remaja masa kini mengikuti pola para selebritis tersebut, hidup semau gue dan malas berusaha. Terlebih lagi jika dihadapkan pada perjuangan menegakkan kebenaran, akan sangat sulit mengingat hati mereka kehilangan ghirah jihad.
Sayangnya, yang ada di benak remaja kini adalah Madonna (bom seks Holywood), Brytney Spears, Sophia Latcuba, Jihan Fahira, Meriam Belina, Paramitha Rusady, dan sederet wanita binal lainnya yang sering mengumbar aurat. Atau tokoh-tokoh fiktif seperti Rambo, Superman, Batman, dll. menjadi idola yang tanpa batas. Tak heran jika perilaku remaja masa kini mengikuti pola para selebritis tersebut, hidup semau gue dan malas berusaha. Terlebih lagi jika dihadapkan pada perjuangan menegakkan kebenaran, akan sangat sulit mengingat hati mereka kehilangan ghirah jihad.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar