Dalam iklan tidak ada yang nomor dua, semua produk yang mereka tawarkan adalah produk yang katanya terbaik, nomor satu dan serba paling; paling enak, nyaman, manjur, dan paling modern. Padahal belum tentu benar. Iklan-iklan itu telah membius genersi muda agar percaya dengan barang yang mereka tawarkan. Iklan-iklan itu jelas berisi kebohongan dan kebohongan itu telah dimaklumi masyarakat. Padahal Islam sangat mengecam gaya promosi seperti itu. Sebaiknya barang yang ditawarkan dijelaskan baik dan buruknya, jangan baiknya saja.
Gaya penipuan dalam jual-beli pernah terjadi zaman Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw. mengunjungi pasar, beliau melihat tumpukan biji kurma yang sangat bagus, lalu beliau menghampirinya dan memasukkan tangannya dalam-dalam ke tumpukan kurma itu, ternyata di dalamnya basah (jelek). Maka Rasulullah Saw. marah kepada shahabat itu seraya berkata: “Kenapa ini (basah)”. Shahabat itu menjawab: “Kehujanan ya Rasulullah”. Lantas Rasulullah bersabda lagi: “Kenapa tidak kau taruh di atas? Barangsiapa yang menipu bukan termasuk golonganku”.
Islam mengharamkan jual-beli yang mengandung unsur penipuan atau tidak jelas. Seperti membeli yang masih hijau atau dengan tebakan. Rasulullah Saw. bersabda:
“Anas bin Malik menyampaikan bahwasanya Rasulullah Saw. melarang jual-beli buah yang masih dalam tangkainya, jual-beli buah yang belum nyata matangnya, jual-beli barang yangboleh diraba tapi tidak boleh dilihat, melempar-lempar (untung-untungan), menakar yang kering dengan yang basah (misalnya meminjam sekwintal padi yang basah harus dibayar dengan sekuintal padi yang kering)” (HR. Bukhari).
Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa penipuan baik melalui ucapan atau penglihatan adalah dosa besar. Jual-beli dalam Islam harus transparan, saling menguntungkan antara penjual dan pembeli. Seorang penjual tidak boleh mengiklankan barang hanya ingin laku saja, tapi harus diperhatikan kualitas sesungguhnya.
Iklan yang banyak meninabobokan remaja ada di televisi. Televisi menjadi media yang paling banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Remaja modern umumnya termakan bujuk rayu iklan. Secara kasat mata kita dapat melihat, berapa banyak remaja yang larut dalam pembiusan keadaan hanya sekedar pengen memperoleh legitimasi “modern” atau setidaknya mereka senang apabila stempel “kuno” atau “kuper” (kurang pergaulan) luput dari julukan yang diberikan oleh rekan-rekannya. Akibatnya bukan hanya pemborosan waktu yang merenggutnya tetapi pemborosan materi tanpa disadari telah memangsanya dan mereka pun akhirnya tergiring ke suatu kondisi yang segalanya bersifat pragmatis danprestisius. Artinya, pengakuan seolah-olah menjadi jaminan (garansi) hidup yang harus diperebutkan, walaupun harus ditebus dengan biaya yang mahal.
Praktis, banyak remaja lebih senang menghabiskan waktu dengan mejeng di tempat-tempat yang dinilai mewakili gaya hidup modern, seperti di plaza atau diskotik daripada berkumpul dan melakukan kegiatan diskusi di masjid atau membentuk kelompok belajar dengan teman sejawat. Di samping itu bukan rahasia umum lagi, ketika perut mereka dililit rasa lapar, serta merta remaja pun lebih “menyerbu” KFC, CFC, Wendy’s atau McDonald’s dan meneguk minuman beraroma “cola” ketimbang harus pergi ke warung-warung (seperti warteg) yang mereka nilai “kampungan”.
Lalu ketika mode rambut, pakaian, dan musik mulai menjadi trend kehidupan atau pun munculnya teknologi komunikasi baru –seperti hand phone– yang dianggap sebagai simbol gaya hidup baru dan lambang prestise penampilan masyarakat modern, remaja pun mulai pasang aksi melirik perilaku hidup tersebut. Di plaza, pasar, atau di mana saja –termasuk di sekolah– simbol gaya hidup tersebut terrefleksi dalam penampilan diri dan menjadi aksesoris yang terkadang tanpa disadari justru merupakan bukti telah berkembangnya sikap pamer status. Padahal apa manfaat yangdidapatkan secara nilai-guna bagaikan “angin lalu”. Akibatnya, kehadiran peradaban baru tersebut seakan tak terbendung oleh filter diri. Remaja seakan terbius –bahkan terhalusinasi– oleh perilaku semu yang mampu diendapkan oleh peradaban itu sendiri, di mana akhirnya remaja pun terpola pada kondisi gaya hidup mau enaknya saja dengan segala kemudahannya.
Semuanya sebagai bukti, remaja modern telah masuk pada perangkap iklan, serba materi dan sarat kebohongan. Berlomba memamerkan kesemuan dengan menyembunyikan realitas hidup yang sesungguhnya. Akhirnya mereka terjebak dalam pola konsumtif.
Secara terperinci, dampak iklan menurut Liliweri, sebagaimana dikutif Sumartono (2002), adalah:
a. Bentukan sikap konsumen yang materialistik. Mengagungkan pemilikan harta benda sebagai simbol status.
b. Membuat orang merasa cepat puas dengan apa-apa yang ada karena semuanya (apa yang diiklankan itu) serba cepat dan praktis. Iklan-iklan catering menyajikan kepraktisan makanan bungkus, minuman dalam kaleng plastik, makanan cepat yang mengubah perilaku dan kebiasaan berkumpul para ibu (mungkin ditingkat RT) bergaul dan bertukar pikiran waktu memasak bersama-sama. Barangkali juga karena membeli makanan cepat dan praktis membuat para ibu dan gadis remaja jauh dari kebiasaan wanita, memasak.
c. Mempengaruhi tingkat pemakaian konsumsi terhadap suatu produk. Gejala seperti ini mengubah gaya yang sederhana menjadi lebih anggun, barangkali lebih materialistik. Meningkatnya biaya hidup karena jumlah dan frekuensi mengonsumsi suatu produk terus bertambah dan seterusnya.
d. Iklan juga akan mempengaruhi kehidupan moral, etik, estetika, paling tidak perubahan standarnya di kalangan masyarakat. Iklan-iklan tentang kehidupan malam, bar, dan panti pijat secara terselubung melalui media mempengaruhi perubahan nilai dan pandangan orang tentang seksualitas. Demikian pula iklan tentang perceraian, iklan tentang penggunaan obat dan alat-alat kontrasepsi juga ikut mempengaruhi perubahan standar moral (penilaian tentang kehidupan seksual). Masih banyak lagi deretan pengaruh iklan yang negatif bisa diajukan karena mengubah nilai-nilai moral, etik, dan estetika suatu masyarakat.e. Iklan juga dapat membuat konsumen menjadi seragam dalam penggunaan produk. Hal ini terlihat dalam sejarah dengan penggunaan produk beramai-ramai meningkatkan produksi produk itu, akhirnya meningkatkan konsumsi dan budaya massa yang “menghancurkan” sendi-sendi kehidupan masyarakat.
f. Iklan dapat mempengaruhi pola dan perilaku hubungan antarpribadi dan kelompok. Pengaruh itu bisa positif, bisa negatif. Iklan dalam persepsi selektif mungkin bisa mengakibatkan diteruskannya suatu pesan pada komunikasi antarpribadi. Iklan susu bubuk yang bagus dapat dengan mudah beredar dan mendapat peneguhan di kalangan jaringan komunikasi para ibu yang sedang menyusui dan duduk di ruang tunggu Puskesmas. Namun demikian iklan juga dapat mengakibatkan konflik antarpribadi, persaingan pribadi hanya karena mereka menjadi konsumen dan produk yang berbeda dan merasa sangat fanatik dengan produk yang lainnya.
g. Iklan –dalam berbagai penelitian– sering menunjukkan mempunyai kekuatan pengaruh terutama pada anak-anak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian alat-alat rumah tangga yang baru, seperti meubel, sofa di pendopo, lampu-lampu hias, dan aquarium serta alat-alat dapur terbanyak dipilih orang tuanya karena desakan anak-anak yang telah membaca atau melihatiklan. Apalagi iklan tersebut merupakan iklan produk kebutuhan anak-anak.
Remaja terperangkap iklan menunjukkan ketidakmampaun remaja tersebut dalam membentengi diri sehingga dimanfaatkan oleh pihak ketiga dalam hal ini televisi. Secara rinci Sujanto (1980) menyebutkan bahwa ciri-ciri remaja yang erat kaitannya dengan pengaruh iklan, adalah:
a. Mulai mencari identitas diri melalui penggunaan simbol status seperti menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat.
b. Bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan sehingga pendiriannya tidak kuat.
c. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang tenjadi sehingga mudah untuk dipengaruhi.
d. Munculnya rasa takut tidak diterima teman sebaya jika tidak berpenampilan sama dengan teman-teman lainnya.
e. Memiliki sifat ingin tahu terhadap informasi yang diterima sehingga selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.f. Mulai mencari identitas diri yang ditunjukkan dalam berpakaian, berbicara, dan memilih tokoh yang diidolakan.
g. Mulai tahu menghias diri dan menggunakan berbagai aksesoris yang dapat menimbulkan kepercayaan diri.
Di samping 7 ciri tensebut, ciri remaja lainnya adalah meniru perilaku tokoh yang diidolakan dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dipakai tokoh yang diidolakan dan juga munculnya minat yang besar pada penampilan diri yang tidak hanya mencakup pakaian tetapi juga perhiasan diri, kerapian, dan daya tarik fisik.
Dalam pandangan Haditono (1995) remaja mempunyai kemampuan membeli yang tinggi, sebab pada umumnya remaja dalam berpakaian, berdandan, gaya potong rambut, tingkah laku, kesenangan musik, mempunyai karakteristik tersendiri, dan kebanyakan dari mereka membelanjakan uangnya untuk keperluan tersebut. Keadaan yang demikian membuat remaja mempunyai pola konsumsi yang menunjukkan sifat ekslusif dengan citra yang mahal, lebih mewah. Manifestasi penampilannya dapat berupa remaja dengan mode mutakhir, memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. Gejala ini menimbulkan perilakukonsumtif di kalangan remaja. Untuk mengikuti kecendenungan konsumtif, remaja membutuhkan uang yang jumlahnya tidak sedikit sehingga perilaku konsumtif lebih terlihat pada remaja dengan uang saku yang cukup banyak
Gaya penipuan dalam jual-beli pernah terjadi zaman Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw. mengunjungi pasar, beliau melihat tumpukan biji kurma yang sangat bagus, lalu beliau menghampirinya dan memasukkan tangannya dalam-dalam ke tumpukan kurma itu, ternyata di dalamnya basah (jelek). Maka Rasulullah Saw. marah kepada shahabat itu seraya berkata: “Kenapa ini (basah)”. Shahabat itu menjawab: “Kehujanan ya Rasulullah”. Lantas Rasulullah bersabda lagi: “Kenapa tidak kau taruh di atas? Barangsiapa yang menipu bukan termasuk golonganku”.
Islam mengharamkan jual-beli yang mengandung unsur penipuan atau tidak jelas. Seperti membeli yang masih hijau atau dengan tebakan. Rasulullah Saw. bersabda:
“Anas bin Malik menyampaikan bahwasanya Rasulullah Saw. melarang jual-beli buah yang masih dalam tangkainya, jual-beli buah yang belum nyata matangnya, jual-beli barang yangboleh diraba tapi tidak boleh dilihat, melempar-lempar (untung-untungan), menakar yang kering dengan yang basah (misalnya meminjam sekwintal padi yang basah harus dibayar dengan sekuintal padi yang kering)” (HR. Bukhari).
Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran bahwa penipuan baik melalui ucapan atau penglihatan adalah dosa besar. Jual-beli dalam Islam harus transparan, saling menguntungkan antara penjual dan pembeli. Seorang penjual tidak boleh mengiklankan barang hanya ingin laku saja, tapi harus diperhatikan kualitas sesungguhnya.
Iklan yang banyak meninabobokan remaja ada di televisi. Televisi menjadi media yang paling banyak digandrungi masyarakat Indonesia. Remaja modern umumnya termakan bujuk rayu iklan. Secara kasat mata kita dapat melihat, berapa banyak remaja yang larut dalam pembiusan keadaan hanya sekedar pengen memperoleh legitimasi “modern” atau setidaknya mereka senang apabila stempel “kuno” atau “kuper” (kurang pergaulan) luput dari julukan yang diberikan oleh rekan-rekannya. Akibatnya bukan hanya pemborosan waktu yang merenggutnya tetapi pemborosan materi tanpa disadari telah memangsanya dan mereka pun akhirnya tergiring ke suatu kondisi yang segalanya bersifat pragmatis danprestisius. Artinya, pengakuan seolah-olah menjadi jaminan (garansi) hidup yang harus diperebutkan, walaupun harus ditebus dengan biaya yang mahal.
Praktis, banyak remaja lebih senang menghabiskan waktu dengan mejeng di tempat-tempat yang dinilai mewakili gaya hidup modern, seperti di plaza atau diskotik daripada berkumpul dan melakukan kegiatan diskusi di masjid atau membentuk kelompok belajar dengan teman sejawat. Di samping itu bukan rahasia umum lagi, ketika perut mereka dililit rasa lapar, serta merta remaja pun lebih “menyerbu” KFC, CFC, Wendy’s atau McDonald’s dan meneguk minuman beraroma “cola” ketimbang harus pergi ke warung-warung (seperti warteg) yang mereka nilai “kampungan”.
Lalu ketika mode rambut, pakaian, dan musik mulai menjadi trend kehidupan atau pun munculnya teknologi komunikasi baru –seperti hand phone– yang dianggap sebagai simbol gaya hidup baru dan lambang prestise penampilan masyarakat modern, remaja pun mulai pasang aksi melirik perilaku hidup tersebut. Di plaza, pasar, atau di mana saja –termasuk di sekolah– simbol gaya hidup tersebut terrefleksi dalam penampilan diri dan menjadi aksesoris yang terkadang tanpa disadari justru merupakan bukti telah berkembangnya sikap pamer status. Padahal apa manfaat yangdidapatkan secara nilai-guna bagaikan “angin lalu”. Akibatnya, kehadiran peradaban baru tersebut seakan tak terbendung oleh filter diri. Remaja seakan terbius –bahkan terhalusinasi– oleh perilaku semu yang mampu diendapkan oleh peradaban itu sendiri, di mana akhirnya remaja pun terpola pada kondisi gaya hidup mau enaknya saja dengan segala kemudahannya.
Semuanya sebagai bukti, remaja modern telah masuk pada perangkap iklan, serba materi dan sarat kebohongan. Berlomba memamerkan kesemuan dengan menyembunyikan realitas hidup yang sesungguhnya. Akhirnya mereka terjebak dalam pola konsumtif.
Secara terperinci, dampak iklan menurut Liliweri, sebagaimana dikutif Sumartono (2002), adalah:
a. Bentukan sikap konsumen yang materialistik. Mengagungkan pemilikan harta benda sebagai simbol status.
b. Membuat orang merasa cepat puas dengan apa-apa yang ada karena semuanya (apa yang diiklankan itu) serba cepat dan praktis. Iklan-iklan catering menyajikan kepraktisan makanan bungkus, minuman dalam kaleng plastik, makanan cepat yang mengubah perilaku dan kebiasaan berkumpul para ibu (mungkin ditingkat RT) bergaul dan bertukar pikiran waktu memasak bersama-sama. Barangkali juga karena membeli makanan cepat dan praktis membuat para ibu dan gadis remaja jauh dari kebiasaan wanita, memasak.
c. Mempengaruhi tingkat pemakaian konsumsi terhadap suatu produk. Gejala seperti ini mengubah gaya yang sederhana menjadi lebih anggun, barangkali lebih materialistik. Meningkatnya biaya hidup karena jumlah dan frekuensi mengonsumsi suatu produk terus bertambah dan seterusnya.
d. Iklan juga akan mempengaruhi kehidupan moral, etik, estetika, paling tidak perubahan standarnya di kalangan masyarakat. Iklan-iklan tentang kehidupan malam, bar, dan panti pijat secara terselubung melalui media mempengaruhi perubahan nilai dan pandangan orang tentang seksualitas. Demikian pula iklan tentang perceraian, iklan tentang penggunaan obat dan alat-alat kontrasepsi juga ikut mempengaruhi perubahan standar moral (penilaian tentang kehidupan seksual). Masih banyak lagi deretan pengaruh iklan yang negatif bisa diajukan karena mengubah nilai-nilai moral, etik, dan estetika suatu masyarakat.e. Iklan juga dapat membuat konsumen menjadi seragam dalam penggunaan produk. Hal ini terlihat dalam sejarah dengan penggunaan produk beramai-ramai meningkatkan produksi produk itu, akhirnya meningkatkan konsumsi dan budaya massa yang “menghancurkan” sendi-sendi kehidupan masyarakat.
f. Iklan dapat mempengaruhi pola dan perilaku hubungan antarpribadi dan kelompok. Pengaruh itu bisa positif, bisa negatif. Iklan dalam persepsi selektif mungkin bisa mengakibatkan diteruskannya suatu pesan pada komunikasi antarpribadi. Iklan susu bubuk yang bagus dapat dengan mudah beredar dan mendapat peneguhan di kalangan jaringan komunikasi para ibu yang sedang menyusui dan duduk di ruang tunggu Puskesmas. Namun demikian iklan juga dapat mengakibatkan konflik antarpribadi, persaingan pribadi hanya karena mereka menjadi konsumen dan produk yang berbeda dan merasa sangat fanatik dengan produk yang lainnya.
g. Iklan –dalam berbagai penelitian– sering menunjukkan mempunyai kekuatan pengaruh terutama pada anak-anak. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian alat-alat rumah tangga yang baru, seperti meubel, sofa di pendopo, lampu-lampu hias, dan aquarium serta alat-alat dapur terbanyak dipilih orang tuanya karena desakan anak-anak yang telah membaca atau melihatiklan. Apalagi iklan tersebut merupakan iklan produk kebutuhan anak-anak.
Remaja terperangkap iklan menunjukkan ketidakmampaun remaja tersebut dalam membentengi diri sehingga dimanfaatkan oleh pihak ketiga dalam hal ini televisi. Secara rinci Sujanto (1980) menyebutkan bahwa ciri-ciri remaja yang erat kaitannya dengan pengaruh iklan, adalah:
a. Mulai mencari identitas diri melalui penggunaan simbol status seperti menggunakan simbol status dalam bentuk mobil, pakaian, dan pemilikan barang-barang lain yang mudah terlihat.
b. Bersifat ambivalen terhadap setiap perubahan sehingga pendiriannya tidak kuat.
c. Meningginya emosi, yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikologis yang tenjadi sehingga mudah untuk dipengaruhi.
d. Munculnya rasa takut tidak diterima teman sebaya jika tidak berpenampilan sama dengan teman-teman lainnya.
e. Memiliki sifat ingin tahu terhadap informasi yang diterima sehingga selalu ingin mencoba sesuatu yang baru.f. Mulai mencari identitas diri yang ditunjukkan dalam berpakaian, berbicara, dan memilih tokoh yang diidolakan.
g. Mulai tahu menghias diri dan menggunakan berbagai aksesoris yang dapat menimbulkan kepercayaan diri.
Di samping 7 ciri tensebut, ciri remaja lainnya adalah meniru perilaku tokoh yang diidolakan dalam bentuk menggunakan segala sesuatu yang dipakai tokoh yang diidolakan dan juga munculnya minat yang besar pada penampilan diri yang tidak hanya mencakup pakaian tetapi juga perhiasan diri, kerapian, dan daya tarik fisik.
Dalam pandangan Haditono (1995) remaja mempunyai kemampuan membeli yang tinggi, sebab pada umumnya remaja dalam berpakaian, berdandan, gaya potong rambut, tingkah laku, kesenangan musik, mempunyai karakteristik tersendiri, dan kebanyakan dari mereka membelanjakan uangnya untuk keperluan tersebut. Keadaan yang demikian membuat remaja mempunyai pola konsumsi yang menunjukkan sifat ekslusif dengan citra yang mahal, lebih mewah. Manifestasi penampilannya dapat berupa remaja dengan mode mutakhir, memberi kesan berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi. Gejala ini menimbulkan perilakukonsumtif di kalangan remaja. Untuk mengikuti kecendenungan konsumtif, remaja membutuhkan uang yang jumlahnya tidak sedikit sehingga perilaku konsumtif lebih terlihat pada remaja dengan uang saku yang cukup banyak

Tidak ada komentar:
Posting Komentar