Joged Jahiliyyah

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (QS. An-Nur: 31)
Tak dapat dipungkiri, pornografi saat ini bukan sebatas pada cara berpakaian yang serba mini, tapi diikuti oleh gerak (pornoaksi). Gerakan-gerakan atau goyangan para penyanyi atau penari latar telah jauh dari norma kesopanan apalagi dinilai dari sudut Islam. Menu-menu acara seperti Joged, Digoda (Digoyang Danggut), Dangdut Ria, dan lain-lain secara kasat mata telah mempertontonkan erotisme. Gerakan-gerakan erotis itu hampir mirip dengan tari striptease atau tari telanjang yang biasa digelar di pub atau diskotek di Barat.Tak dapat dipungkiri, acara-acara yang mempertontonkan gerakan erotis itu dengan sengaja memindahkan erotisme dari panggung diskotek, pub, atau nighclub ke layar kaca (televisi). Bahkan memindahkan adegan ranjang ke layar TV. Seluruh saluran televisi seolah berlomba mempertontonkan gerakan yang lebih berani lagi. Tak tanggung-tanggung ada sebagian dari menu acara itu mengadakan lomba joget. Pemenangnya adalah tak lain mereka yang lebih berani telanjang dan bergerak lebih erotis.
MUI pun sejak lama telah bersuara lantang tentang pornografi dan pornoaksi ini. Bahkan baru-baru ini MUI mengeluarkan teguran kepada Inul Daratisna karena goyangan mautnya yang tidak bisa ditolerir lagi. Namun karena masyarakat sudah lama kerasukan setan, teguran MUI ini tidak dihiraukan bahkan banyak yang mencibirnya. Alhasil gerakan erotis tetap subur di televisi kita. Televisi-televisi itu lebih tergiur oleh pemasukan dari iklan daripada harus memperhatikan moral. Bahkan Inul yang sudah ditegur oleh MUI sengaja dipertontonkan oleh semua stasiun televisi, seolah ingin mengatakan “jangan hiraukan MUI. Mereka menantang perang”.
Belum lagi tayangan TV impor yang notabene dari Barat, maka tontonan porno kian menjadi-jadi. Sensor sudah tidak adalagi. Terlebih lagi hukum di Indonesia berkiblat ke thagut, maka semakin suburlah praktek pornografi di negara yang kata orang muslimnya terbesar di dunia. Sementara itu jika muncul reaksi dari sebagian kecil masyarakat yang masih memiliki komitmen kuat terhadap moral, mereka segera menutupi pornografi itu dengan seni.
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah: 96)

Tidak ada komentar:

Sumber: http://mahameruparabola.blogspot.com