Ngefans Artis ?

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)”. (QS. An-Nahl: 120).
Dalil ini menjadi landasan pentingnya menjadikan orang-orang shalih sebagai fans atau idola. Para nabi dan shahabatnya adalah selebritis yang sukses menjalani hidup dunia-akhirat. Tak dapat diragukan lagi, menjadikan para nabi dan rasul sebagai idola adalah pilihan terbaik. Namun dunia modern telah memberikan pilihan lain. Tokoh-tokoh fiktif dan tokoh fatamorgana justru menjadi fans. Akibatnya berbagai kekacauan hidup melanda abad ini.
Seleb berarti ternama, kesohor, atau figur. Selebritis berarti orang ternama, kesohor atau yang dijadikan figur. Selebmania berati pengagum berat tokoh-tokoh ternama tersebut. Tokoh ternama yang dimaksud adalah artis atau mereka yang terjun di dunia hiburan baik sebagai penyanyi, bintang film/sinetron, foto model, peragawati, cover girl, presenter, dan lain-lain.
Selebmania, kultisme atau kekaguman yang berlebihan terhadap artis sudah menjadi wabah penyakit baru di kalangan remaja modern. Para remaja dengan tanpa melihat moral artis, tetapsaja tergila-gila dengan sosok artis idolanya. Bahkan tak terbatas sampai di sana, mereka pun berlomba meniru artis pujaannya.
Dunia artis adalah dunia glamor. Di sanalah berpusat segala kebobrokan moral. Mulai dari penyalahgunaan obat terlarang, minuman keras, seks bebas dan penyelewengan terhadap berbagai norma agama lainnya. Sebagai sosok glamor, artis memang bisa berbuat apa saja dengan limpahan uang yang diperolehnya, bahkan jika perlu hukum pun bisa dibeli. Maka bagaimana jadinya jika sosok seperti ini dijadikan idola remaja. Tak heran lagi jika berbagai kejahatan seks dan penyalahgunaan obat terlarang merajalela karena memang remaja kita berguru pada para penjahat (artis) tersebut.
Artis di zaman modern telah berubah menjadi nabi baru. Segala ucap dan gerak langkah mereka menjadi panutan. Simak bagaimana enaknya masyarakat menirukan gaya berbicara artis dalam iklan. Atau bagaimana ia menirukan cara artis berpakaian. Tak jarang mereka berbuat seperti halnya artis saat berakting, membunuh, mencaci, memfitnah, berkelahi dan hubungan badan.
Kita bisa melihat begitu hebatnya pengaruh para artis di kalangan generasi muda. Sehingga tatkala seorang artismancanegara datang ke Indonesia, mereka rela antri berjam-jam hanya untuk beli tiket dan berdesak-desakan hanya untuk melihat artis pujaannya itu. Bahkan tak jarang mereka menangis histeris tatkala artis yang dipujanya itu terlihat dengan mata kepala sendiri. Sebagian mereka berlari sambil berteriak mengejar artis idolanya itu dan sebagian jatuh pingsan. Apa sebenarnya yang mereka cari? Hanya kepuasan semu belaka. Secara akal sehat, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian materi, waktu dan tenaga. Tak lebih!
Benar apa yang dikhawatirkan oleh Bryan S. Turner, Guru Besar pada Universitas Flinders, Australia ketika ia mengomentari gagasan pasca modernisme Akbar S. Ahmad bahwa ancaman terhadap Islam bukan datang dari warisan Yesus, melainkan dari warisan Madonna. "Pengikisan diam-diam terhadap 'narasi besar' mungkin akan lebih serius terjadi lewat teve komersial, MTV, video, handset, dan globalisasi cat walk. Demikian Turner.
Demikianlah adanya. Dunia modern tengah mengalami ancaman degradasi moral secara global. Generasi muda yang tak terbatas pada generasi Islam saja tengah dihadapkan pada penghancuran moral besar-besaran. Mereka memuja para artis dengan tidak mengindahkan sisi moral artis tersebut. Dunia modern telah mendesain sedemikian rupa agar artis dijadikan idola remajayang pada gilirannya artis tersebut digunakan untuk model iklan tertentu. Secara otomatis iklan yang dibintangi artis tersebut akan laris di pasaran dan menjadi tren di kalangan remaja.
Di sisi lain, nyaris tidak ada satu media pun yang bisa menjadi pembanding dari semua itu. Tidak ada media (TV) yang secara khusus memberikan cerita kepahlawanan yang benar terhadap remaja. Umpamanya bagaimana kegigihan pahlawan-pahlawan Islam membela kebenaran. Yang ada justru kian hari dunia artis makin digembar-gemborkan dan remaja kita pun makin dininabobokan.

Tidak ada komentar:

Sumber: http://mahameruparabola.blogspot.com