Hamil Diluar Nikah
Perilaku seks bebas yang dilakukan remaja modern baik dengan pasangannya (pacar) maupun dengan kekasih gelapnya, telah menambah deretan panjang remaja hamil di luar nikah. Sebagian memilih menggugurkan kandungannya, tak sedikit pula yang membesarkan kandungannya lalu membuang bayi itu sesaat setelah melahirkan, dan yang “beradab” mereka segera menikahkan anak itu sebelum kandungannya membesar yang oleh mereka sering disebut “pernikahan dini” atau pernikahan karena “kecelakaan” (yang disengaja).
Menikahkan anak karena “kecelakaan” atau married by accident atau sering disebut MBA ini seolah menjadi budaya baru di kalangan keluarga Islam. Mereka sudah tidak lagi mempertimbangkan hukum Islam, bagaimana cara memperlakukan anaknya yang telah berbuat dosa besar dan hukum menikahkan yang hamil. Ironisnya mereka bukannya menghukum anak itu, tapi justru dipestakan, dihargai layaknya seseorang yang telah berjasa. Atau mungkin mereka memang dianggap “berjasa” memberikan cucu (?) Na’udzubillahi mindzalik.
Zina sudah dianggap “zamannya”. Padahal Rasulullah Saw. siap memotong tangan anaknya jika kedapatan mencuri, begitu juga Umar bin Khatab. Apalagi berzina, jelas pelanggaran yang sangat nyata. Maka mengawinkan mereka saat hamil karena “kecelakaan” sungguh perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Idealnya mereka dibuat kapok agar menjadi contoh bagi yang lainnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Demi Allah yang menggenggam diriku, umat ini tidak akan binasa sampai kelak terjadi seorang laki-laki mendatangi seorang wanita, lalu menyetubuhinya di jalanan. Sedangkan orang-orang yang baik di antara mereka berkata: ’alangkah baiknya saya sembunyi di balik pagar’”. (HR. Abu Ya’la).
Akibat “pernikahan dini” ini, maka lahirlah “anak-anak ajaib” yang dikandung “lebih pendek waktunya”. Bayangkan! Baru nikah lima bulan, anak sudah lahir. Yang cukup menggelikan, ada yang baru nikah tiga bulan, anaknya sudah nongol. Ada juga yang hanya berselang satu hari setelah pernikahan itu sang istri melahirkan. Itulah “bayi ajaib”.
Walau demikian, perilaku negatif remaja terutama hubungannya dengan penyimpangan seksualitas, pada dasarnya bukan murni tindakan diri mereka saja, melainkan ada faktor pendukung atau pengaruh dari luar (faktor eksternal). Faktor-faktor yang menjadi sumber penyimpangan tersebut adalah:
Pertama, kualitas diri remaja itu sendiri seperti, perkembangan emosional yang tidak sehat, mengalami hambatan dalam pergaulan sehat, kurang mendalami norma agama, ketidakmampuan mempergunakan waktu luang, tidak mampu dalam mengatasi masalah sendiri, berada dalam kelompok yang tidak baik, dan memiliki kebiasaan negatif terutama di rumah atau kurang disiplin dalam menjalani kehidupan di rumah.
Kedua, kualitas lingkungan keluarga yang tidak mendukung anak untuk berlaku baik seperti, anak kurang bahkan tidak mendapatkan kasih-sayang berarti akibat kesibukan kedua orang tua di luar rumah, dan pergeseran norma keluarga dalam mengembangkan norma positif seperti tidak adanya pendidikan dan kebiasaan melakukan norma agama. Di samping itu keluarga tidak memberikan arahan tentang seks yang sehat.
Ketiga, kualitas lingkungan yang kurang sehat, seperti lingkungan yang tidak ada pengajian agama dan lingkungan masyarakat yang telah mengalami kesenjangan komunikasi (gap) antartetangga.
Keempat, minimnya kualitas informasi yang masuk pada remaja sebagai akibat globalisasi. Akibatnya anak remaja sangat kesulitan atau jarang mendapatkan informasi sehat dalam hal seksualitas. Bahkan justru media massa kini terutama media remaja cenderung mengutamakan bisnis dengan lebih banyak mengekspose seksualitas yang tidak sehat dengan mengesampingkan pendidikan moral.
Dengan demikian, penyimpangan seksual remaja sampai kapan pun akan tetap menggejala sebelum terpecahkan empat masalah tersebut di atas. Terutama kehidupan agama di lingkungan keluarga, mengingat masalah masyarakat berawal dari masalah di keluarga.
Namun bagi individu dan keluarga yang sehat (secara agama), akan menghindari bentuk-bentuk penyimpangan seks. Mereka justru memilih jalan aman, yaitu tidak pacaran atau nikah segera dan inilah pernikahan dini dalam arti yang sebenarnya. Rasulullah sendiri mengisyaratkan agar remaja yang sudah matang (siap nikah) segeralah menikah. Bahkan beliau melarang keras membujang terlalu lama. Artinya, nikah dini sangat dianjurkan terutama di era yang sarat rangsangan seperti sekarang ini.
Menikahkan anak karena “kecelakaan” atau married by accident atau sering disebut MBA ini seolah menjadi budaya baru di kalangan keluarga Islam. Mereka sudah tidak lagi mempertimbangkan hukum Islam, bagaimana cara memperlakukan anaknya yang telah berbuat dosa besar dan hukum menikahkan yang hamil. Ironisnya mereka bukannya menghukum anak itu, tapi justru dipestakan, dihargai layaknya seseorang yang telah berjasa. Atau mungkin mereka memang dianggap “berjasa” memberikan cucu (?) Na’udzubillahi mindzalik.
Zina sudah dianggap “zamannya”. Padahal Rasulullah Saw. siap memotong tangan anaknya jika kedapatan mencuri, begitu juga Umar bin Khatab. Apalagi berzina, jelas pelanggaran yang sangat nyata. Maka mengawinkan mereka saat hamil karena “kecelakaan” sungguh perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Idealnya mereka dibuat kapok agar menjadi contoh bagi yang lainnya.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Demi Allah yang menggenggam diriku, umat ini tidak akan binasa sampai kelak terjadi seorang laki-laki mendatangi seorang wanita, lalu menyetubuhinya di jalanan. Sedangkan orang-orang yang baik di antara mereka berkata: ’alangkah baiknya saya sembunyi di balik pagar’”. (HR. Abu Ya’la).
Akibat “pernikahan dini” ini, maka lahirlah “anak-anak ajaib” yang dikandung “lebih pendek waktunya”. Bayangkan! Baru nikah lima bulan, anak sudah lahir. Yang cukup menggelikan, ada yang baru nikah tiga bulan, anaknya sudah nongol. Ada juga yang hanya berselang satu hari setelah pernikahan itu sang istri melahirkan. Itulah “bayi ajaib”.
Walau demikian, perilaku negatif remaja terutama hubungannya dengan penyimpangan seksualitas, pada dasarnya bukan murni tindakan diri mereka saja, melainkan ada faktor pendukung atau pengaruh dari luar (faktor eksternal). Faktor-faktor yang menjadi sumber penyimpangan tersebut adalah:
Pertama, kualitas diri remaja itu sendiri seperti, perkembangan emosional yang tidak sehat, mengalami hambatan dalam pergaulan sehat, kurang mendalami norma agama, ketidakmampuan mempergunakan waktu luang, tidak mampu dalam mengatasi masalah sendiri, berada dalam kelompok yang tidak baik, dan memiliki kebiasaan negatif terutama di rumah atau kurang disiplin dalam menjalani kehidupan di rumah.
Kedua, kualitas lingkungan keluarga yang tidak mendukung anak untuk berlaku baik seperti, anak kurang bahkan tidak mendapatkan kasih-sayang berarti akibat kesibukan kedua orang tua di luar rumah, dan pergeseran norma keluarga dalam mengembangkan norma positif seperti tidak adanya pendidikan dan kebiasaan melakukan norma agama. Di samping itu keluarga tidak memberikan arahan tentang seks yang sehat.
Ketiga, kualitas lingkungan yang kurang sehat, seperti lingkungan yang tidak ada pengajian agama dan lingkungan masyarakat yang telah mengalami kesenjangan komunikasi (gap) antartetangga.
Keempat, minimnya kualitas informasi yang masuk pada remaja sebagai akibat globalisasi. Akibatnya anak remaja sangat kesulitan atau jarang mendapatkan informasi sehat dalam hal seksualitas. Bahkan justru media massa kini terutama media remaja cenderung mengutamakan bisnis dengan lebih banyak mengekspose seksualitas yang tidak sehat dengan mengesampingkan pendidikan moral.
Dengan demikian, penyimpangan seksual remaja sampai kapan pun akan tetap menggejala sebelum terpecahkan empat masalah tersebut di atas. Terutama kehidupan agama di lingkungan keluarga, mengingat masalah masyarakat berawal dari masalah di keluarga.
Namun bagi individu dan keluarga yang sehat (secara agama), akan menghindari bentuk-bentuk penyimpangan seks. Mereka justru memilih jalan aman, yaitu tidak pacaran atau nikah segera dan inilah pernikahan dini dalam arti yang sebenarnya. Rasulullah sendiri mengisyaratkan agar remaja yang sudah matang (siap nikah) segeralah menikah. Bahkan beliau melarang keras membujang terlalu lama. Artinya, nikah dini sangat dianjurkan terutama di era yang sarat rangsangan seperti sekarang ini.
ENGLISH
1 . Pregnant outside of marriage
Sex behavior that modern teenagers do well with their partner ( boyfriend ) and with her secret lover , has added to a long line of teen pregnancy out of wedlock . Most choose an abortion , not a few who raised her womb and dumped the infant shortly after birth , and the " civilized " they were soon married the child before the abortion enlarged by them is often called " early marriage " or marriage because of " accident " ( a deliberate ) .Marry young because " accidents " or married by accident or MBA is often referred as a new culture among Muslim families . They are no longer considering Islamic law , how to treat children who have committed a great sin and marriage laws were pregnant . Ironically them instead of punishing the boy, but it was feted , respected like someone who had been instrumental . Or maybe they are deemed " meritorious " gives grandson ( ? ) Na'udzubillahi mindzalik .Adultery is considered " his day " . Though the Prophet. ready to cut off his hand if caught stealing , as well as Umar bin Khatab . Moreover, adultery , obviously a very real violation . Then mated them while pregnant because " accidents " really irresponsible act . Ideally they give up in order to be made an example for others .Prophet. said :" As God is holding me , this race will not perish until later occurs a man approached a woman and fuck her on the streets . While the good people among them said : ' it is better hidden behind a fence .' " ( Narrated by Abu Ya'la ) .As a result of " early marriage " is , it gives birth to " miracle child " conceived " shorter time " . Imagine ! Newly married five months , the child was born . Its pretty ridiculous , there's a new three- month marriage , children have bobbed . There also is only one day later after the marriage his wife gave birth . That " miracle baby " .However , negative behaviors , especially teenagers relation to irregularities sexuality , basically not a pure action themselves alone , but there are contributing factors or influences from outside ( external factors ) . Factors to be the source of such deviations are :First , the quality of itself as adolescents , unhealthy emotional development , experience barriers to healthy relationships , less steeped in religious norms , inability to use leisure time , not able to solve problems on their own , are in a group that is not good , and has a particularly negative habits at home or lack of discipline in life at home .Second , the quality of the family environment that does not support the child to behave well as , children do not get even less compassion means both parents due to busy outside the home , and family norms shift in developing positive norms such as lack of education and habit of religious norms . In addition, the family does not provide guidance about healthy sex .Third , the quality of an unhealthy environment , as no environmental study of religion and society that has experienced communication gap ( gap ) between neighbors .Fourth , the lack of quality information coming in adolescents as a result of globalization . As a result, older children are very difficult or rarely get healthy information in terms of sexuality . Indeed, it is now primarily the mass media tend to promote youth media businesses with more expose unhealthy sexuality to the exclusion of moral education .Thus , adolescent sexual perversions until whenever will remain unsolved implicated before the four above-mentioned problems . Especially in the religious life of the family , the community began considering the issue of problems in the family .But for healthy individuals and families ( in religion ) , will avoid other forms of sexual deviance . They chose the safe way , which is not dating or married soon and this is early marriage in the true sense . Prophet himself suggests that teens are ripe ( ready for marriage ) married immediately . He even forbade celibacy too long . That is, early marriage is highly recommended , especially in an era laden stimuli such as it is today.
Sex behavior that modern teenagers do well with their partner ( boyfriend ) and with her secret lover , has added to a long line of teen pregnancy out of wedlock . Most choose an abortion , not a few who raised her womb and dumped the infant shortly after birth , and the " civilized " they were soon married the child before the abortion enlarged by them is often called " early marriage " or marriage because of " accident " ( a deliberate ) .Marry young because " accidents " or married by accident or MBA is often referred as a new culture among Muslim families . They are no longer considering Islamic law , how to treat children who have committed a great sin and marriage laws were pregnant . Ironically them instead of punishing the boy, but it was feted , respected like someone who had been instrumental . Or maybe they are deemed " meritorious " gives grandson ( ? ) Na'udzubillahi mindzalik .Adultery is considered " his day " . Though the Prophet. ready to cut off his hand if caught stealing , as well as Umar bin Khatab . Moreover, adultery , obviously a very real violation . Then mated them while pregnant because " accidents " really irresponsible act . Ideally they give up in order to be made an example for others .Prophet. said :" As God is holding me , this race will not perish until later occurs a man approached a woman and fuck her on the streets . While the good people among them said : ' it is better hidden behind a fence .' " ( Narrated by Abu Ya'la ) .As a result of " early marriage " is , it gives birth to " miracle child " conceived " shorter time " . Imagine ! Newly married five months , the child was born . Its pretty ridiculous , there's a new three- month marriage , children have bobbed . There also is only one day later after the marriage his wife gave birth . That " miracle baby " .However , negative behaviors , especially teenagers relation to irregularities sexuality , basically not a pure action themselves alone , but there are contributing factors or influences from outside ( external factors ) . Factors to be the source of such deviations are :First , the quality of itself as adolescents , unhealthy emotional development , experience barriers to healthy relationships , less steeped in religious norms , inability to use leisure time , not able to solve problems on their own , are in a group that is not good , and has a particularly negative habits at home or lack of discipline in life at home .Second , the quality of the family environment that does not support the child to behave well as , children do not get even less compassion means both parents due to busy outside the home , and family norms shift in developing positive norms such as lack of education and habit of religious norms . In addition, the family does not provide guidance about healthy sex .Third , the quality of an unhealthy environment , as no environmental study of religion and society that has experienced communication gap ( gap ) between neighbors .Fourth , the lack of quality information coming in adolescents as a result of globalization . As a result, older children are very difficult or rarely get healthy information in terms of sexuality . Indeed, it is now primarily the mass media tend to promote youth media businesses with more expose unhealthy sexuality to the exclusion of moral education .Thus , adolescent sexual perversions until whenever will remain unsolved implicated before the four above-mentioned problems . Especially in the religious life of the family , the community began considering the issue of problems in the family .But for healthy individuals and families ( in religion ) , will avoid other forms of sexual deviance . They chose the safe way , which is not dating or married soon and this is early marriage in the true sense . Prophet himself suggests that teens are ripe ( ready for marriage ) married immediately . He even forbade celibacy too long . That is, early marriage is highly recommended , especially in an era laden stimuli such as it is today.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar