
Dalam sebuah hubungan, rasa cemburu bisa berfungsi sebagai perekat yang bisa membuat sepasang kekasih untuk tetap setia. Adanya rasa cemburu bisa diartikan sebagai tanda bahwa kita memang benar mencintai dan menyayanginya.
Masalah mulai muncul ketika kita salah mengartikan rasa cemburu pasangan kita. Ketika sedang membicarakan kecemburuan, laki-laki cenderung menerima keluhan sang wanita sebagai tindakan yang menyalahkan dirinya. Ujung-ujungnya si laki-laki menjadi defensive karena merasa disudutkan dan si wanita menjadi lebih kecewa karena pasangannya dianggap tidak bisa mengerti.
Ketika seorang wanita mengutarakan kecemburuannya, laki-laki sebaiknya lebih berusaha untuk mendengarkan. Hal ini memang bisa menjadi tantangan tersendiri karena laki-laki harus bisa menahan panasnya telinga, terlebih lagi bila pasangan kita bicaranya merembet kemana-mana.
Namun yang perlu kita ingat adalah ketika seorang wanita sedang mengungkapkan kecemburuannya, dia cenderung untuk menggunakan kata-kata yang terdengar dibesar-besarkan. Misalnya,
“kamu sudah tidak cinta lagi sama aku”,
“aku memang tidak dianggap sama kamu”,
“kamu tidak setia lagi”, “kamu selalu mengacuhkan aku”, dan sebagainya.
Laki-laki yang mendengar ucapan seperti ini biasanya akan merasa tersinggung. Di mata seorang laki-laki ucapan tadi seperti sebuah tindakan yang menghakimi dan sebuah tuduhan yang menyudutkan dirinya.
Makanya tidak aneh bila si laki-laki akan bersikap membela diri.
“Enak saja bilang aku tidak pengertian, padahal aku capek kerja untuk kebahagiaan dia juga”,
“kalau aku tidak serius dengan dia, buat apa aku terus bersamanya?”, “Keterlaluan dia bilang aku tidak memperhatikan dirinya, padahal aku melakukan ini semua untuk dia”, adalah contoh-contoh yang mungkin dipikirkan oleh sang laki-laki ketika berusaha membela dirinya dari “tuduhan” sang kekasih.
Di sinilah tantangannya. Karena pada umumnya, seorang wanita yang sedang mengutarakan kecemburuannya tidak lebih dari seseorang yang sedang bicara tentang kekhawatirannya. Hanya saja cara penyampaiannya yang suka dilebih-lebihkan dan suka menyerempet kesana dan kemari.
Kalau kita mengetahui bahwa ini adalah teknik perempuan mengkomunikasikan kecemburuannya, kita sebagai laki-laki bisa lebih berkepala dingin dalam menanggapi.
Jika memang kecemburuan pasangan kita berasal dari kesalahan kita, berbesar hatilah untuk mau mengakuinya. Kalau kecemburuan itu berasal dari kecurigaannya saja, bersabarlah untuk memberi pengertian kepadanya.
Apa pun itu, berilah kesempatan pada pasangan kita untuk mengungkapkan kecemburuannya. Dengarkan saja dan ketahuilah bahwa ucapan-ucapan dirinya tidak bermaksud untuk menghakimi kita sebagai laki-laki yang tidak pengertian atau melepaskan tanggung jawab.
Walau kita mungkin kesal, tapi sebisa mungkin balaslah ucapan-ucapannya dengan nada yang lembut. Jadilah pendengar dan selingilah dengan canda. Jangan terlalu diambil pusing kalau dia seperti membesar-besarkan masalah. Itu tidak lebih dari cara penyampaian saja.
Bagi wanita yang sedang cemburu, dia membutuhkan kepastian dari kekasihnya bahwa dialah yang utama. Oleh karenanya kita sebagai laki-laki, perlu juga mengucapkan kata-kata indah untuk dapat meyakinkan kembali perasaannya.
Apakah berarti kita harus menggombal? Bisa iya, bisa tidak. Tetapi kalaupun menggombal, tunjukkanlah bahwa gombalan kita bukan sebuah bualan. Tunjukkanlah bahwa gombalan kita adalah niat tulus kita untuk membuat dia bahagia, namun dalam penyampaiannya diberi pemanis sehingga terdengar lebih indah.
Cemburu tidak selamanya jelek. Cemburu bisa dilihat sebagai bukti cinta dan rasa sayang yang diberikan oleh pasangan kita, dan perbedaan dalam penyampaian memang bisa menyebabkan kesalahpahaman.
Namun bila kita mau mencoba memahami maksud yang tersirat dari sebuah kecemburuan, kita bisa menjadi lebih bijak dalam menanggapinya. Semoga saja ini juga bisa menambah rasa sayang dan cinta kita terhadap dirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar