Buruk Sangka

Dhan atau sangkaan adalah menganggap yang lain mungkin berbuat kesalahan atau kejelekan, namun dia sendiri belum yakin 100% dan hanya yakin sekitar 75%. Dhan juga berarti kecenderungan untuk mencari kambing hitam atau menyalahkan orang lain dari sesuatu yang mungkin tidak ia perbuat.
Perbuatan ini termasuk perilaku keji karena cepat menilai seseorang jelek yang dia sendiri tidak yakin karena belum membuktikannya atau belum menemuinya. Bahayanya, kadang orang yang mendengar dhan itu terkadang merasa yakin bahwa seseorang itu memang berbuat kejelekan. Jika berita ini tersebar dari mulut ke mulut, bukan hal mustahil beritanya dilebih-lebihkan dan terjadi fitnah besar.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang beriman! Jauhilah sejauh-jauhnya prasangka jelek (dhan). Sesungguhnya sebagian besar dari prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12).Karena itu pantas jika Rasululah Saw. menilai dhan atau buruk sangka ini sejelek-jeleknya omongan atau berita. Sabda beliau:
“Hati-hatilah kalian dengan prasangka sebab prasangka itu sejelek-jeleknya (sedusta-dustanya) perkataan.” (Mutafaq ’Alaih)
Seorang muslim harus berhati-hati menilai seseorang karena biasanya yang kita nilai lahiriyahnya saja, sementara hatinya hanya dia dan Allah SWT yang tahu, jadi kita tidak berhak menilai seseorang hanya karena terlihat perbuatan lahiriahnya jelek.
“Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Al-Israa: 36).
Dalam Hayatul Shahabah dikutip perkataan Umar bin Khatab: Pada zaman Rasulullah wahyu menjadi pedoman hidup, ketika wahyu telah selesai turun, kami mengambil kalian cukup dengan amalan-amalan lahiriyah. Maka apa yang nampak oleh kami itu baik, maka kami mempercayainya dan kami menemaninya. Dan kami tidak mencampuri urusan kerahasiaannya,cukuplah Allah yang mengetahui kerahasiaannya. Dan apa yang nampak oleh kami jelek, maka kami tidak mempercayainya dan tidak menemaninya. Bisa saja ia mengatakan yang tersembunyi di hatinya baik.
Perkataan Umar tersebut mengisyaratkan agar kita realistis, kalau saudara itu terlihat baik secara lahir, maka jangan ada prasangka yang bukan-bukan. Tapi jika secara nyata-nyata ia berbuat jelek, maka tindakan kita berhati-hati.

Tidak ada komentar:

Sumber: http://mahameruparabola.blogspot.com