Model celana hip adalah celana panjang ketat yang umumnya berbahan jeans yang bagian atasnya lebih pendek sehingga hanya menempel di pinggul bahkan pantat. Padalah celana umumnya melingkar di pinggang. Model celana hip terlihat melorot dan bagitu merangsang. Apalagi biasanya dipadukan dengan kaos pendek yang ketat pula dengan memperlihatkan bagian pusar. Saat jongkok pinggul bahkan sebagian pantat terlihat. Atau mungkin mereka sengaja ingin memperlihatkan celana dalam yang dari merek terkenal itu. Walaupun terlihat tidak nyaman namun para wanita itu terlihat pede demi sesuatu yang mereka sebut ‘popularitas’ sebagai remaja modern.
Model ini diperkenalkan tahun 2000 oleh artis-artis mancanegara. Britney Spear bahkan dalam klip lagunya mendemontrasikan model celana ini yang lebih pendek dari biasanya. Beberapa bulan artis-artis Indonesia menirunya. Tak lama kemudian merebaklah muda-mudi di mana-mana memakai model celana seperti itu. Hingga kini model celanahip masih ngetren. Perilaku imitasi ini semakin menambah panjang model-model jahiliyyah.
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya, (1) kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang (ialah penguasa yang zhalim) (2) Wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang.” (HR. Muslim).
Munculnya model hip ini akibat gencarnya tayangan yang menggambarkan pentingnya sebuah penampilan menarik, maka muncullah bentuk pemujaan terhadap tubuh. Media Massa modern terus menerus mempropagandakan bahwa makna hidup sesungguhnya ada pada penampilan menarik. Tubuh berubah menjadi penguasa yang bisa mengalahkan segala kepentingan lainnya.
Menurut Akbar S. Ahmad, bagi wanita modern, zaman media adalah perangkap keindahan yang menggiurkan. Penampilan wajahnya harus anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing dan memiliki daya pikat seksual, pakaiannya mutakhir. Wanita tidak boleh buruk nafas, berjerawat, apalagi bau badannya. Media terus menerus menanamkan pandangan hidup dengan tubuh sebagai pusat kesadaran.Guna menopang pemujaan tubuh, dibuatlah berbagai produk pemoles tubuh mulai dari bedak, masker, lotion, pencuci wajah, lipstik, pil anti jerawat, peramping pinggang, minyak wangi, berbagai model pakaian, dan lain-lain. Bahkan kini diciptakan mesin khusus untuk mengencangkan payudara dan wajah. Teknologi pun semakin canggih dengan menciptakan mesin bedah plastik guna merubah penampilan wajah menjadi lebih oke. Lebih radikal lagi, bagi seseorang yang tidak puas dengan jenis kelaminnya bisa ditukar dengan jenis kelamin lainnya (transeksual).
Herannya, produk-produk itu bukan sekedar produk biasa, tapi juga membawa kesan-kesan tersendiri. Iklan-iklan pun menanamkan kesan-kesan seperti itu. Misalnya, jika memakai bedak 'A', seseorang dikesankan sebagai remaja gaul, modern dan akan dikejar-kejar laki-laki. Lipstik 'B' yang dalam iklan memakai model seorang ratu dunia (Miss Universe), dikesankan sebagai gaya hidup selebritis dunia, pakaian produk ini berarti mengikuti jejak sang ratu tersebut. Minyak wangi 'C' mengesankan gaya hidup mewah dengan model iklan yang sering melanglang buana ke berbagai negara (setting iklannya sengaja di atas pesawat udara dan bandara). Tak ketinggalan mode pakaian, sepatu dan sandal pun akan semakin menanamkan kesan sebagai wanita modern. Seorangyang memakai produk pakaian tertentu akan merasa bangga karena pakaian itu dalam iklan dipakai oleh Jihan Fahira, sang idola di dunia remaja. Saking hebatnya kesan-kesan yang diciptakan oleh media, hingga masalah harga tinggi pun sudah tidak diperhitungkan, sekalipun produk tersebut sebenarnya tidak terlalu istimewa bahkan mungkin sama dengan produk emperan.
“Sesungguhnya wanita itu menghadap dengan rupa setan dan membelakangi dengan rupa setan pula. Jika seseorang di antara kamu tertarik kepada seorang wanita, hendaklah didatangi istrinya, agar nafsunya dapat tersalurkan” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Budaya pemujaan tubuh ini melahirkan remaja-remaja yang doyan pamer aurat. Di jalan-jalan remaja kita sudah tidak risi lagi dengan pakaian ketat dan nyaris terbuka atau rok mini dengan kaos you can see serta jeans bolong dan ketat, dandanan wajah dan potongan rambut yang tidak karuan. Lebih mengkhawatirkan dari semua itu, yaitu budaya hidup bersama (free sex) yang tercermin dari bebasnya mereka bergaul dan bergerombol dengan lawan jenis.
Model ini diperkenalkan tahun 2000 oleh artis-artis mancanegara. Britney Spear bahkan dalam klip lagunya mendemontrasikan model celana ini yang lebih pendek dari biasanya. Beberapa bulan artis-artis Indonesia menirunya. Tak lama kemudian merebaklah muda-mudi di mana-mana memakai model celana seperti itu. Hingga kini model celanahip masih ngetren. Perilaku imitasi ini semakin menambah panjang model-model jahiliyyah.
“Ada dua golongan dari ahli neraka yang siksanya belum pernah saya lihat sebelumnya, (1) kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang digunakan memukul orang (ialah penguasa yang zhalim) (2) Wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang selalu maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Rambutnya sebesar punuk unta. Mereka tidak akan masuk surga, bahkan tidak akan mencium wanginya, padahal bau surga itu tercium sejauh perjalanan yang amat panjang.” (HR. Muslim).
Munculnya model hip ini akibat gencarnya tayangan yang menggambarkan pentingnya sebuah penampilan menarik, maka muncullah bentuk pemujaan terhadap tubuh. Media Massa modern terus menerus mempropagandakan bahwa makna hidup sesungguhnya ada pada penampilan menarik. Tubuh berubah menjadi penguasa yang bisa mengalahkan segala kepentingan lainnya.
Menurut Akbar S. Ahmad, bagi wanita modern, zaman media adalah perangkap keindahan yang menggiurkan. Penampilan wajahnya harus anggun namun atraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing dan memiliki daya pikat seksual, pakaiannya mutakhir. Wanita tidak boleh buruk nafas, berjerawat, apalagi bau badannya. Media terus menerus menanamkan pandangan hidup dengan tubuh sebagai pusat kesadaran.Guna menopang pemujaan tubuh, dibuatlah berbagai produk pemoles tubuh mulai dari bedak, masker, lotion, pencuci wajah, lipstik, pil anti jerawat, peramping pinggang, minyak wangi, berbagai model pakaian, dan lain-lain. Bahkan kini diciptakan mesin khusus untuk mengencangkan payudara dan wajah. Teknologi pun semakin canggih dengan menciptakan mesin bedah plastik guna merubah penampilan wajah menjadi lebih oke. Lebih radikal lagi, bagi seseorang yang tidak puas dengan jenis kelaminnya bisa ditukar dengan jenis kelamin lainnya (transeksual).
Herannya, produk-produk itu bukan sekedar produk biasa, tapi juga membawa kesan-kesan tersendiri. Iklan-iklan pun menanamkan kesan-kesan seperti itu. Misalnya, jika memakai bedak 'A', seseorang dikesankan sebagai remaja gaul, modern dan akan dikejar-kejar laki-laki. Lipstik 'B' yang dalam iklan memakai model seorang ratu dunia (Miss Universe), dikesankan sebagai gaya hidup selebritis dunia, pakaian produk ini berarti mengikuti jejak sang ratu tersebut. Minyak wangi 'C' mengesankan gaya hidup mewah dengan model iklan yang sering melanglang buana ke berbagai negara (setting iklannya sengaja di atas pesawat udara dan bandara). Tak ketinggalan mode pakaian, sepatu dan sandal pun akan semakin menanamkan kesan sebagai wanita modern. Seorangyang memakai produk pakaian tertentu akan merasa bangga karena pakaian itu dalam iklan dipakai oleh Jihan Fahira, sang idola di dunia remaja. Saking hebatnya kesan-kesan yang diciptakan oleh media, hingga masalah harga tinggi pun sudah tidak diperhitungkan, sekalipun produk tersebut sebenarnya tidak terlalu istimewa bahkan mungkin sama dengan produk emperan.
“Sesungguhnya wanita itu menghadap dengan rupa setan dan membelakangi dengan rupa setan pula. Jika seseorang di antara kamu tertarik kepada seorang wanita, hendaklah didatangi istrinya, agar nafsunya dapat tersalurkan” (HR. Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Budaya pemujaan tubuh ini melahirkan remaja-remaja yang doyan pamer aurat. Di jalan-jalan remaja kita sudah tidak risi lagi dengan pakaian ketat dan nyaris terbuka atau rok mini dengan kaos you can see serta jeans bolong dan ketat, dandanan wajah dan potongan rambut yang tidak karuan. Lebih mengkhawatirkan dari semua itu, yaitu budaya hidup bersama (free sex) yang tercermin dari bebasnya mereka bergaul dan bergerombol dengan lawan jenis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar