Jomblo - Singles

Menanti adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika menanti suatu yang tidak pasti. Sementara waktu terus berjalan; memangkas jatah usia dan menyeretnya pada kondisi yang tidak menentu. Dalam kesendirian, kadang muncul pertanyaan, “Siapa sebenarnya jodoh saya?” Sebuah pertanyaan klasik yang terus mengiang dalam hati sanubari. “Adakah jodoh untuk saya?”, “Benarkah jodoh itu ada?” dan segudang pertanyaan lainnya.
Resah dan gelisah kian menghantui hari-hari sepinya manakala usia mulai melewati kepala tiga sementara jodoh tak kunjung datang. Apalagi jika melihat sekelilingnya, semua kawan seusianya bahkan yang lebih muda darinya telah naik ke pelaminan dan ada yang sudah memiliki keturunan. Baginya ini realitas yang menyakitkan sekaligus membingungkan. Menyakitkan, manakala masyarakat mencibirnya sebagai sosok yang “tidak laku” bahkan memberinya gelar jomblo. Membingungkan, manakala tidak ada yang mau peduli dan ambil pusing dengan masalah yang tengah dihadapinya.
Mayarakat Indonesia terutama yang tinggal di perkampungan telah menganggap jomblo itu sebuah aib. Akibatnya, banyak di antara mereka menikahkan anak-anaknya di usia yang sangat muda. Tindakan ini diambil untuk menghindari gelar jomblo itu.
Apalagi anggapan yang berkembang di kalangan wanita, semakin tua usia kian sulit mendapatkan jodoh, akan menambah keresahan dan mengikis rasa percaya diri. Maka wanita yang masih sorangan wae kadang memilih mengurung diri dan hari-harinya dihabiskan dengan berandai-andai.
Anggapan di atas secara psikologis tidak bisa disalahkan mengingat kecenderungan laki-laki memilih calon istri yang usianya lebih muda atau sebanding. Logikanya, seorang laki-laki yang usianya tua akan lebih mudah mendapatkan calon istrinya karena “pasarnya” usia di bawahnya, sementara wanita lebih sulit karena “pasar” usia yang lebih tua dan laki-laki di usia ini langka. Jadi, laki-laki yang jomblo dalam hal ini berada ”di atas angin” atau lebih diuntungkan. Tapi ini bukanlah teori matematis, bisa saja kejadiannya terbalik.
Terlepas mudah atau sulitnya mendapatkan jodoh, yang jelas bagi mereka baik laki-laki maupun wanita yang tak kunjung mendapatkan jodoh, kesendiriannya menjadi problema tersendiri, mereka tetap saja disebut jomblo. Tak heran jika sebagian besar mencari solusi mulai dari yang rasional lewat biro jodoh hingga yang irasional lewat perdukunan.

ENGLISH

Waiting is the most boring thing , especially if waiting for something that is not definite . As time went on ; slashed rations age and dragged on uncertain condition . In solitude , sometimes the question arises , " Who is my soul mate ? " A classic question played over and over in the heartstrings . " Is there a soul mate for me ? " , " Is it true that there is a soul mate ? " And a myriad of other questions .Increasingly restless and uneasy haunting lonely days when age began to pass through three interim chief mate did not come. Especially if you look around , all the comrades of his age even younger than he has been up to the altar and there that already have children . For him this painful reality and confusing . Painful , when society mencibirnya as someone who " did not sell " even gave him the title single. Confusing , when no one wants to bother with the cares and problems being faced.Indonesian society , especially those living in the township have considered it a disgrace singles . As a result , many of them marry off their children at a very young age . This action is taken to avoid the singles title .Moreover, a growing perception among women , the older more difficult to get a mate , will add to the anxiety and erodes self-confidence . Then the woman who still sorangan wae sometimes chooses to confine himself and his days spent suppose .The above assumption is psychologically not to blame given the tendency of men to choose candidates whose younger wife or comparable . Logically , a man that old age will be easier to get his future wife because " the market " under age , while women are more difficult because the " market " and the older age of men in this age is rare. So , men singles in this case is " the upper hand " or more wins. But this is not a mathematical theory , could have happened inverted .Regardless ease or difficulty of finding a mate , which is obviously good for those men and women who never get a mate , solitude became its own problems , they are still called singles . No wonder the majority of looking for solutions ranging from rational over the irrational dating up through shamanism .

Tidak ada komentar:

Sumber: http://mahameruparabola.blogspot.com